Minggu, 22 Mei 2016

FUTURE



MENGABDI PADA KATA HATI
Yu Ruk (Sang Pemilik Warung Cabean yang pantang menyerah)

Untuk kali ini kita akan membahas tentang penyuntik semangat dari anaknya. Siapa sichhh yang tak kenal dengan ”Rufiatin” atau yang akrab kita kenal dengan “Yu Ruf” or “Yu Ruk” sosok penjual gorengan di PESAT CAKAP yang terkenal dengan masakannya yang sangat mantap. Si ibu kelahiran 12 Agustus 50 tahun yang lalu ini merupakan sesosok ibu yang kerap menyuntikkan semangat belajar anak-anaknya dengan prinsip dari Romo Kyai Sholeh “Kalau bambunya terlanjur tua, maka rebungnya harus di pupuk”. Yang itu artinya kira-kira kalau orang tuanya terlanjur hidup susah, maka anaknya harus di beri berbagai pelajaran hingga ia menjadi sukses. Sungguh prinsip yang luar biasa ya..
          Salah satu kisah yang bisa dibagi sebagai inspirasi buat kita, Si ibu dengan senyuman khasnya ini dengan hanya bermodalkan  Rp.25.000,00.  mampu membiayai kelima buah hatinya untuk mengcopy paste ilmu di berbagai lembaga pendidikan. Tak terkecuali si buah hati yang nomor dua, “Khusniyatul Karomah”  namanya, lebih lanjut Yu Ruk bercerita bahwa Mbak Khus dengan tekadnya untuk selalu bertirakat (hidup susah) di pondok  Darut Taqwa Segon Agung mampu bertahan hidup hanya dengan memegang uang Rp.50.000,00 setiap minggunya. si gadis yang kini sudah menikah ini mampu bertahan hidup di Pesantren selama 9 tahun dengan kondisi demikian, bikin baper ya... dahsyatnya lagi, dengan kerja kerasnya selain keterbatasan ekonomi yang menyelimuti, si gadis mungil ini tak pernah absen menduduki peringkat 2 besar di kelasnya selama di MA. Selepas dari MA, lanjut cerita Yu Ruk, Mbak Khus yang kini tinggal di cabean bersama ibunya, mampu menyelesaikan studynya hingga mendapatkan gelar Sarjana Komunikasi walau disepanjang waktu luangnya  selalu di isi dengan menjaga warnet di Pesantrennya selain kuliah. “Karna anak saya selalu masuk 2 besar selama SMA,Maka oleh pihak Universitas Yudharta di berikan keringanan 50% selama nilainya tidak di bawah standart”.  jelas ibu Rufiatin.
          Padahal saat ditanya oleh team redaksi majalah online yang secara khusus mengundang beliau untuk wawancara. “kalau dipikir-pikir nak, berapa sich keuntungan jualan gorengan, tidak akan cukup”.. kata beliau. Tetapi tetap tidak menggoyahkan tekadnya untuk mencerdaskan buah hatinya hingga menyandang gelar S.Kom. selain itu banyak juga cobaan yang menghampiri si buah hati ke2 ini, tak terkecuali kanker payudara pun pernah dideritanya. Hingga semua modal penjualannya ludes tertelan untuk biaya pengobatan si buah hati S.Kom ini. Apalagi semenjak kepulangan suaminya ke Rohmatulloh dipanggil oleh sang khaliq.
          Ada lagi cerita yang terkesan lucu dibalik perjuangan beliau menyekolahkan anak-anaknya sendirian tersebut.  Yuk Ruk kerap kali nyasar ketika hendak menjenguk ke empat anaknya yang ada di Pesantren berbeda. Dua anak perempuan di salah satu Pesantren di Probolinggo,satu anak laki-laki di PP.Besuk Pasuruan,dan satu anak lagi di PP.Darut Taqwa. Sedangkan satu anak bungsunya setia menemani si ibu di rumah dengan menuntut ilmu di MI AT –TAQWA Cabean.
          Tasbih air mata ibu Rufiatin tak pernah kering ketika mendengar suara keluh anaknya yang minta uang biaya sekolah. “Mau menjawab apa ketika empat anak saya meminta uang sekolahnya semua.Sedangkan hasil penjualan saya hanya cukup untuk bertahan hidup sehari-hari”.Tuturnya. Dengan berperinsip bahwa “Alloh SWT selalu menanggung rizki orang yang mencari ilmu”. Ibu Rufiatin tetap bersikukuh agar kelima buah hatinya tetap bersekolah meski hutang ke kanan kiri rumah serta kerabat-kerabatnya hngga Gali Lobang Tutup Lobang (ngutip dari lagu Rhoma Irama). Bahkan si ibu ini merelakan sertifikat tanah rumahnya untuk sementara berdomisili di pegadaian demi kelima buah hatinya bertahan sekolah.
          Sosok seperti ibu Rufiatin inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk perubahan di Era Globalisasi ini. Sesosok ibu yang teguh pendirian, pekerja keras, sabar dan tentunya selalu menomor satukan pendidikan diatas segala-galanya. Saat ini Indonesia tlah krisis akan sosok ibu seperti ini. Untuk itu, Jika Sokhib Mading telah dikaruniai ibu yang pengertian dan keluarga yang berkecukupan, Bersyukurlah, berterima kasihlah dan berbaktilah kepadanya...!!! Jangan menghabiskan waktu tanpa mengambil faedahnya... karena hidup hanya datang sekali..(Eldzimah)

 

6 komentar: